
Kalau kamu udah ngikutin dunia crypto dari lama, pasti kenal sama Johannes Liong — investor asal Indonesia yang sekarang tinggal di Singapura dan sering banget sharing soal investasi & trading Bitcoin di sosmed.
Fun fact: Johannes ini udah ngomongin Bitcoin di YouTube sejak 2020, waktu harganya masih di $5.000. Sekarang? Udah tembus $100.000+ 😱
Nah, banyak yang nanya:
“Sekarang udah deket all time high. Masih bisa naik gak? Gak takut kalau tiba-tiba jatuh?”
Jawabannya: tergantung dari 4 indikator penting yang selalu dipakai Johannes buat analisis siklus harga Bitcoin. Yuk, kita bahas satu-satu 👇
💡 1. Pi-Cycle Indicator
Indikator legendaris yang bisa ngasih sinyal kapan harga Bitcoin udah mentok di puncak.
📈 Kalau dua garisnya belum saling silang, artinya harga masih punya ruang buat naik.
➡️ Saat ini? Belum silang. Masih aman!
🌈 2. 200-Week Moving Average Heatmap
Grafik ini pakai warna buat nunjukin posisi harga Bitcoin:
-
🔵 Biru = Murah (zona beli)
-
🔴 Merah = Mahal (zona jual / take profit)
Sekarang warnanya masih biru, jadi masih di area aman buat akumulasi.
📊 3. 2-Year MA Multiplier
Indikator ini bantu lihat kapan Bitcoin “murah” atau “mahal”:
-
Di bawah garis hijau = masih murah banget
-
Di atas garis merah = udah mahal
Posisi sekarang? Masih jauh dari garis merah, alias tren masih bullish 💪
🧠 4. Terminal Price
Ini indikator yang ngukur “harga wajar” Bitcoin berdasarkan data on-chain.
Kalau harga udah nyentuh garis merah, artinya investor besar mulai jualan.
Sekarang? Masih jauh banget dari situ. Jadi, masih aman buat investasi & trading.
🔍 Kesimpulan
Selama indikator-indikator ini belum nunjukin sinyal jenuh, tren Bitcoin masih kuat naik.
Tapi begitu 2–3 indikator mulai ngasih tanda, itu saatnya:
-
Ambil take profit bertahap
-
Siapin strategi buat kemungkinan reversal tren
🎯 Ingat:
Gak ada yang bisa nebak harga tertinggi Bitcoin.
Tapi dengan analisis yang tepat, kamu bisa tahu kapan waktu ideal buat beli atau jual.
Trading itu bukan soal feeling, tapi soal strategi & disiplin.
Stay smart, stay strategic ⚡