
loading…
Harga bensin terpampang di sebuah SPBU Sheetz saat para pelanggan mengisi bahan bakar mobil mereka di Wilkes-Barre, Pennsylvania, AS. FOTO/Reuters
“Jika tidak ada perang ini, kami akan melihat sedikit peningkatan proyeksi pertumbuhan kami. Sebaliknya, semua jalan kini menuju harga lebih tinggi dan pertumbuhan lebih lambat,” ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dikutip dari Reuters, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Sinyal Resesi Global Menguat, Lonjakan Harga Minyak Dekati Ambang Batas Krisis
IMF sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3% pada 2026 dan 3,2% pada 2027. Namun, konflik yang berkepanjangan diperkirakan akan memaksa untuk menurunkan proyeksi tersebut, bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat.
Menurut IMF, konflik tersebut telah memangkas pasokan minyak global sekitar 13% akibat terganggunya jalur distribusi energi, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Lembaga itu menyebut situasi ini sebagai salah satu gangguan terburuk dalam sejarah pasar energi global.
Dampaknya meluas ke sektor gas alam cair (LNG), termasuk terhentinya produksi di fasilitas utama Qatar akibat serangan drone. Kondisi ini menghilangkan puluhan juta ton kapasitas LNG dari pasar global dan memperketat pasokan energi.