
loading…
Ratusan juta barel minyak mentah asal Rusia dan Iran saat ini dilaporkan mengapung di laut akibat pengetatan sanksi Amerika Serikat. FOTO/Baird Maritim
“Kami merasa mungkin sudah hampir mencapai batas kapasitas minyak yang bisa ditempatkan di laut,” kata Frederic Lasserre, kepala global riset dan analisis Gunvor, dalam konferensi International Energy Week 2026 di London, dikutip Minggu (15/2/2026).
Baca Juga: Kelabuhi Sanksi AS, Tanker Minyak Rusia Jadikan Singapura Transit Bayangan
Peringatan senada disampaikan oleh Russell Hardy, CEO Vitol Group, yang menyebutkan bahwa pembeli tradisional minyak yang terkena sanksi kini mulai beralih ke pasokan dari negara-negara Barat atau Arab Saudi. Pergeseran preferensi ini pada gilirannya memperketat pasar riil dan mendorong kenaikan harga bagi konsumen yang mencari pasokan non-sanksi.
Dalam pertemuan tahunan yang dihadiri sekitar 1.000 delegasi dari 50 negara tersebut, penegakan sanksi menjadi isu krusial. Para eksekutif memperingatkan bahwa penumpukan besar minyak yang terdampar di laut ini sedang membentuk ulang peta perdagangan minyak mentah dunia.
Kondisi ini diperparah oleh langkah Uni Eropa yang mengusulkan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia pada awal Februari. Di saat yang sama, Amerika Serikat terus meningkatkan upaya penyitaan terhadap kapal tanker dari “armada bayangan” yang selama ini membantu kelancaran aliran minyak bersanksi.