
loading…
China mengutarakan ada lima pelajaran yang bisa diambil dari perang Amerika Serikat atau AS-Israel terhadap Iran. Foto/Dok
Militer China telah menguraikan lima pelajaran strategis yang dikatakan dapat dipelajari dari serangan AS-Israel terhadap Iran. Mereka memperingatkan terhadap kepercayaan buta pada perdamaian dan ketergantungan berlebihan pada kekuatan luar.
Baca Juga: 6 Dampak Nyata Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia hingga Gas Langsung Bergejolak
China Military Bugle, akun pers resmi angkatan bersenjata China, menerbitkan grafik dwibahasa di X terkait dengan serangan AS-Israel terhadap Iran. Perang tersebut menargetkan area pemerintah, militer, dan nuklir di seluruh negeri.
Serangan tersebut juga membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa komandan tinggi Iran di Teheran, yang memicu pembalasan Iran terhadap Israel dan pangkalan militer AS di Teluk.
Berikut uraian lima hal penting yang bisa jadi pembelajaran dari Serangan AS-Israel terhadap Iran:
1. Ancaman Paling Mematikan: Musuh dari Dalam
Pertama, Ia menyebutkan pengkhianatan internal sebagai “ancaman paling mematikan,” dalam referensi yang tampaknya mengarah pada protes anti-pemerintah baru-baru ini di Iran, yang menurut klaim Teheran didorong oleh AS dan Israel.
Selain itu, Financial Times melaporkan awal pekan ini bahwa pembunuhan Khamenei, membuka kemungkinan bahwa intelijen Israel berhasil membobol hampir semua kamera CCTV di Teheran.
2. Kesalahan Perhitungan yang Paling Mahal
Kedua, postingan yang berjudul “iman buta pada perdamaian” disebut sebagai kesalahan perhitungan yang paling mahal.
3. Realitas Paling Dingin: Logika Kekuatan
Ketiga adalah realitas bahwa kekuatan tembakan yang lebih unggul sering menentukan hasil.
4. Paradoks Paling Kejam: Ilusi Kemenangan
Keempat, unggahan itu memperingatkan terhadap “ilusi kemenangan,” yang tampaknya merujuk pada dampak jangka panjang yang terlihat setelah intervensi AS di Irak, Suriah, dan Libya.
5. Ketergantungan Tinggi Terhadap Negara Lain
Kelima, unggahan itu menyatakan bahwa “kemandirian” adalah satu-satunya jaminan sejati bagi kedaulatan. Poin terakhir ini juga menjadi perhatian Indonesia di tengah kondisi Timur Tengah yang semakin memanas.
Dalam beberapa kesempatan Presiden Prabowo Subianto , memberikan arahan tegas mengenai pentingnya kemandirian bangsa dalam menghadapi dinamika global yang kian tidak menentu. Prabowo menekankan Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari) karena tidak ada jaminan bantuan dari bangsa lain jika negara dalam keadaan terancam.