Bitcoin Bergejolak Imbas Konflik Timur Tengah, Apa yang Perlu Dilakukan Investor?



loading…

Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk aset kripto seperti Bitcoin. FOTO/iStock Photo

JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk aset kripto seperti Bitcoin. Penutupan Selat Hormuz serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mendorong lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan sentimen risk-off investor.

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujar Vice President Indodax Antony Kusuma seperti dikutip, Rabu (4/3/2026).

Ketegangan geopolitik tersebut berdampak pada harga minyak yang dilaporkan naik hingga USD80 per barel. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dan gangguan pasokan global, sementara harga emas dunia menguat di kisaran USD5.100 per troy ons sebagai aset lindung nilai.

Baca Juga: Bitcoin Terkoreksi ke Rp1,11 Miliar, Indodax Sebut Fase Konsolidasi Wajar

Pasar kripto yang beroperasi 24 jam sehari turut mencerminkan perubahan sentimen secara cepat. Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat terkoreksi ke USD63.100 pada akhir pekan, melonjak ke USD70.000 di awal pekan, dan kini bergerak di kisaran USD68.000, dengan kapitalisasi pasar kripto global sekitar USD2,33 triliun.

Antony menilai volatilitas tinggi tersebut mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makro. Pada fase awal gejolak, investor cenderung mengambil sikap risk-off untuk menjaga likuiditas, sebelum sebagian beralih ke instrumen yang dianggap lebih defensif.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *