Terjadi Lagi, Anak Meninggal Akibat Kelaparan di Gaza Tengah



loading…

Mustafa Hijazi yang berusia 12 tahun meninggal karena dehidrasi dan kekurangan gizi di Gaza akibat blokade Israel. Foto/X

GAZA – Seorang anak lainnya meninggal di Jalur Gaza yang terkepung akibat kelaparan dan dehidrasi. Itu artinya, jumlah total kematian akibat malnutrisi di daerah kantong itu menjadi 40 anak, menurut sumber medis yang dikutip kantor berita resmi Palestina, WAFA.

“Mustafa Hijazi, 12 tahun, meninggal pada hari Jumat (14/6/2024) karena malnutrisi parah dan dehidrasi di tengah kekurangan pasokan medis di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah,” ungkap laporan itu.

Sumber medis sebelumnya melaporkan 50 anak di Gaza utara menderita malnutrisi dan kelaparan.

“Menurut laporan dari Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, sekitar 50 anak menderita malnutrisi akibat pemblokiran bantuan kemanusiaan oleh Israel ke wilayah tersebut,” papar WAFA.

Kelaparan Melanda

Sumber tersebut mengatakan kepada WAFA bahwa, “Ancaman kelaparan mengintai Gaza, dan tanda-tanda malnutrisi terlihat jelas pada beberapa anak. Kami berupaya menyediakan layanan medis minimal meskipun terjadi kekurangan bahan bakar.”

“Petugas bantuan dan pakar kesehatan telah memperingatkan akan terjadinya kelaparan di Gaza pada musim panas ini kecuali Israel mencabut pembatasan bantuan, menghentikan agresi, dan memulihkan layanan vital,” ungkap laporan tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini memperingatkan banyak penduduk Gaza menghadapi “tingkat kelaparan yang sangat parah dan kondisi yang menyerupai kelaparan.”

Gambar-gambar Mengerikan

Pada Selasa, Dana Darurat Anak Internasional PBB (UNICEF) memperingatkan hampir 3.000 anak telah diputus dari perawatan untuk kekurangan gizi akut sedang dan berat di Gaza selatan, yang membuat mereka berisiko meninggal.

“Gambar-gambar mengerikan terus bermunculan dari Gaza tentang anak-anak yang meninggal di depan mata keluarga mereka karena terus kurangnya makanan, pasokan nutrisi, dan hancurnya layanan kesehatan,” ungkap Adele Khor, Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *