
loading…
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin di Brunei. Foto/wikipedia
Asal-usul Sejarah dan Persaingan Regional
Pada abad ke-16, Brunei menguasai sebagian besar Kalimantan (Pulau Kalimantan), tetapi secara bertahap mengalami kemunduran akibat invasi kolonial Barat.
Pada tahun 1842, penjelajah Inggris Brooke memperoleh kendali atas Sarawak dari Brunei.
Pada tahun 1888, Brunei, Sarawak, dan Sabah di Kalimantan utara secara berturut-turut dimasukkan ke dalam sistem kolonial Inggris.
Inggris menyerahkan wilayah Limbang kepada Sarawak, yang mengakibatkan pembagian wilayah Brunei. Sengketa ini menjadi hambatan bagi hubungan Brunei dan Malaysia di masa depan.
Penemuan ladang minyak pesisir pada tahun 1928 mengubah nasib Brunei. Pada tahun 1930-an, Brunei telah menjadi wilayah penghasil minyak terbesar ketiga di antara koloni-koloni Inggris, yang meletakkan fondasi bagi kemerdekaannya di masa depan.
Perencanaan Federal dan Manuver Politik
Setelah Perang Dunia II, Inggris berencana menarik diri dari Asia Tenggara. Indonesia berusaha mencaplok semua wilayah Melayu Britania dan mendirikan “Indonesia Raya”.
Dalam upaya melindungi diri dan meningkatkan pengaruh regionalnya, Malaya di Semenanjung Malaya mengusulkan “Rencana Federasi Malaysia”, yang bertujuan mengintegrasikan Singapura dan tiga negara bagian di Kalimantan Utara (Brunei, Sarawak, dan Sabah).