
loading…
China memperluas eksplorasi tambang dalam bumi, dampak ekologisnya jadi sorotan. Foto/thenews.com.pk
Antena kolosal tersebut, bagian dari proyek Wireless Electromagnetic Method (WEM), bukan hanya keajaiban rekayasa, tetapi juga pertanda gangguan lingkungan dan ketegangan geopolitik.
Saat dunia berlomba mengamankan pasokan litium, kobalt, dan unsur tanah jarang demi teknologi hijau, China melesat jauh di depan. Sistem elektromagnetik berdaya sangat tinggi yang dimilikinya mampu menembus ribuan meter ke dalam kerak bumi, menghasilkan penemuan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya: deposit emas terbesar di dunia, cadangan litium masif, dan bijih uranium dalam jumlah besar.
Baca Juga: Dua Ilmuwan China Terlibat Bio-Smuggling, Universitas Michigan Jadi Sorotan
Mengutip dari Mekong News, Senin (6/10/2025), temuan yang tercatat dalam laporan China Geological Survey itu membuat negara-negara Barat tertinggal jauh. Sementara negara-negara Barat bekerja dengan alat berdaya maksimal 30 kW, persenjataan teknologi China kini melampaui 100 kW di hampir semua proyek. Namun, dominasi teknologi ini datang dengan biaya lingkungan yang sangat besar.
Metode eksplorasi elektromagnetik China mengubah skala dan kedalaman deteksi mineral. Dengan membanjiri bumi menggunakan sinyal berdaya tinggi, para geolog kini dapat memetakan tubuh bijih yang terkubur antara kedalaman 500 hingga 2.000 meter—yang mereka sebut sebagai “ruang mineral kedua.”
Di tambang tembaga Jiama, Tibet, survei tensor CSAMT berhasil mencapai resolusi hingga lebih dari 3.000 meter, mengungkap pola resistivitas yang berkorelasi dengan zona bijih kaya.