
loading…
Presiden Xi Jinping diniliai tak hanya ingin merebut kembali seluruh wilayah yang dulu menjadi bagian dari kekaisaran Qing, tetapi juga memaksakan karakteristik China pada wilayah-wilayah taklukannya. Foto/SCMP/Xinhua
CASS merupakan lembaga riset nasional tertinggi di China yang merumuskan ideologi dan memberikan masukan kebijakan bagi para pemimpin. Seperti disebutkan oleh media The Guardian dan dikutip Mekong News, Rabu (5/10/2025), promosi seorang sejarawan yang gencar merehabilitasi periode Qing itu telah menimbulkan spekulasi bahwa kejayaan Dinasti Qing kini dihidupkan kembali untuk memperkuat ambisi global Presiden Xi.
Pada puncak kejayaannya, Dinasti Qing merupakan salah satu kekuatan besar dunia, mencakup peradaban Asia Tengah, Mongolia, dan Tibet, serta dikenal dengan kemakmuran ekonomi dan kekuatan militernya.
Baca Juga: Pemerintah China Perketat Kontrol atas Kuil dan Reinkarnasi Tibet
Namun, Presiden Xi ingin membawa China modern melampaui pencapaian Dinasti Qing. Ia bukan hanya ingin merebut kembali seluruh wilayah yang dulu menjadi bagian dari kekaisaran Qing, tetapi juga memaksakan pada wilayah-wilayah taklukannya apa yang disebut “karakteristik China”.
Karena itu, pada 2019, saat meluncurkan Chinese Academy of History, Presiden Xi menetapkan misinya untuk mendorong narasi sejarah dengan “karakteristik China”.
Dengan kata lain, Xi ingin menerapkan pada rakyat di wilayah-wilayah taklukan bukan hanya pemerintahan China, tetapi juga bahasa, budaya, dan cara hidup China—yakni identitas mayoritas etnis Han.