
loading…
Iran memilih memperpanjang durasi perang. Foto/X
Pemimpin Tertinggi telah meninggal. Penggantinya, Mojtaba Khamenei, belum terlihat di depan umum sejak serangan yang menewaskan ayahnya — menimbulkan pertanyaan baru tentang siapa sebenarnya yang menjalankan negara ini.
Ali Larijani, ahli strategi perang utama rezim dan pengambil keputusan de facto, telah tewas.
Tokoh-tokoh senior di kementerian pertahanan, intelijen, dan keamanan telah tewas, bersama dengan beberapa komandan terpenting Korps Garda Revolusi Islam.
Namun, bahkan setelah pemenggalan kepemimpinan ini, Iran tidak mundur. Sebaliknya, mereka memberi sinyal kesediaan untuk memperpanjang perang — bertaruh bahwa ketahanan, bukan kemenangan langsung, dapat membentuk kembali konflik demi keuntungan mereka, menurut analisis CNN.
Dalam retorika terbarunya, seorang komandan senior Iran memperingatkan bahwa bahkan “taman, area rekreasi, dan tempat wisata” dapat menjadi sasaran — pernyataan yang dimuat oleh Al Jadeed Lebanon — menandakan kemungkinan perluasan di luar target militer tradisional.
Sekilas, strategi ini tampak kontra-intuitif. Iran telah menderita kerugian besar di medan perang, struktur komandonya telah terganggu, dan ekonominya berada di bawah tekanan yang semakin meningkat. Tetapi analis mengatakan memperpanjang perang mungkin merupakan keputusan yang diperhitungkan yang didorong oleh kelangsungan hidup, strategi, dan pengaruh.
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang, dari Ketahanan hingga Bertahan Hidup
1. Bertahan Hidup Lebih Penting
Bagi kepemimpinan Iran, bahaya yang lebih besar mungkin bukan kekalahan di medan perang, tetapi persepsi kekalahan di dalam negeri. Penurunan ketegangan yang cepat di bawah tekanan dapat memperkuat perbedaan pendapat internal dan melemahkan cengkeraman rezim terhadap kekuasaan.