
loading…
Banyak warga Muslim di berbagai negara memiliki tradisi menyambut Ramadan. Foto/X/@tawairkh
4 Tradisi Unik Menyambut Ramadan di Dunia, dari Mheibes hingga Nyekar
1. Haq Al Laila di Uni Emirat Arab
Melansir The National, populer di Teluk, terutama di UEA, ini adalah perayaan anak-anak yang dirayakan 15 hari sebelum Ramadan. Pada Haq Al Laila, yang berarti “untuk malam ini”, anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan membawa tas anyaman berwarna-warni, kemudian pergi dari rumah ke rumah sambil bernyanyi untuk mendapatkan kacang dan permen.
Perayaan biasanya dimulai setelah salat Maghrib ketika anak-anak yang paling bersemangat sering meneriakkan lagu-lagu daripada menyanyikannya, berharap itu akan membawa keberuntungan yang lebih besar.
Beberapa orang menelusuri asal-usul tradisi ini ke salah satu Ramadan pertama dalam Islam ketika Fatimah, putri Nabi Muhammad, membagikan permen kepada orang-orang dua minggu setelah bulan suci itu dimulai. Namun, yang lain mengatakan bahwa ini adalah perayaan yang mendahului Islam dan bahkan bisa menjadi dasar tradisi “trick-or-treat” Halloween.
Mirip dengan Haq Al Laila tetapi dirayakan pada hari ke-15 Ramadan, Gargee’an populer di Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan beberapa bagian Arab Saudi. Di Bahrain, misalnya, sering diadakan perayaan seperti karnaval dengan program yang juga mencakup khutbah larut malam. Di beberapa bagian Arab Saudi, hari itu juga disebut Nasfa, yang berarti “tengah” dalam bahasa Arab, karena jatuh di tengah bulan Ramadan.
Di Qatar, hari itu dikenal sebagai Garangao, sedangkan di Oman disebut Qaranqasho.
2. Nyekar
Setiap tahun sebelum Ramadan dimulai, ratusan warga Indonesia berbondong-bondong ke pemakaman tempat leluhur dan kerabat mereka dimakamkan dan memberi penghormatan. Mereka menaburkan kelopak mawar di kuburan dan berdoa untuk orang-orang terkasih yang telah meninggal. Ritual yang disebut nyekar ini dimaksudkan untuk memperkuat ikatan keluarga saat umat Muslim bersiap untuk salah satu waktu tersuci dalam setahun.
Nyekar biasanya berlangsung seminggu sebelum Ramadan dimulai. Meskipun banyak Muslim di Indonesia yang menjalankannya, kebiasaan ini juga kontroversial karena dipandang negatif oleh kelompok yang lebih konservatif di negara itu yang menganggapnya najis dan tidak Islami.