
loading…
Uni Eropa sebut China terus mendukung Moskow bahkan ketika invasi Rusia ke Ukraina sudah berjalan empat tahun. Foto/RIA Novosti
Namun, saat perang Rusia-Ukraina memperingati tahun keempat menuju tahun kelima, dukungan China ke Rusia justru semakin dalam.
Para pejabat senior Eropa mengatakan kepada RFE/RL bahwa Beijing telah memberikan jalur penyelamat ekonomi penting bagi Rusia melalui pembelian energi, pasokan mineral penting untuk produksi drone, serta aliran stabil barang penggunaan ganda seperti mikroelektronik dan peralatan industri.
Baca Juga: AS dan Ukraina Tuding China Beri Citra Satelit untuk Bantu Serangan Rusia
“Itulah sebabnya kami terus berdialog dengan China untuk mengarahkan mereka pada titik yang tidak dapat dihindari ini,” kata seorang diplomat Uni Eropa yang berbicara dengan syarat anonim, sebagaimana dikutip dari Radio Free Europe/Radio Liberty, Selasa (24/2/2026).
Para pejabat dan analis mengatakan China memang belum memberikan bantuan militer langsung, tetapi terus memperluas kerja sama ekonomi, teknologi, dan diplomatik dengan Moskow. Hubungan yang semakin erat ini diperkirakan akan terus berkembang tahun ini dan membuat upaya pemerintah Eropa untuk memengaruhi Beijing semakin sulit.
Analis mengatakan pejabat China awalnya khawatir terhadap dampak ekonomi perang, tetapi kini menyimpulkan konflik tersebut justru menguntungkan Beijing karena membuat Eropa tetap fokus pada Ukraina, bukan Asia. Dampak ekonomi terhadap China sejauh ini juga relatif kecil dan terbatas pada kilang minyak independen serta perusahaan swasta tertentu.
“China tidak mengharapkan konsekuensi besar karena sejauh ini memang belum ada,” kata Eva Seiwert, analis senior di lembaga think tank MERICS, Berlin. “China tahu Eropa kemungkinan tidak akan menjatuhkan sanksi penuh dan berusaha menjaga dukungannya tetap di bawah ambang yang memicu respons lebih besar.”
China Jadi Penopang Ekonomi Rusia
Sejak Februari 2022, Uni Eropa (UE) telah memasukkan sejumlah perusahaan China ke dalam daftar hitam karena dianggap terlibat dalam rantai pasok atau aliran keuangan yang mendukung upaya perang Rusia. Daftar itu diperkirakan akan bertambah dalam paket sanksi ke-20 Uni Eropa yang akan diumumkan pada 24 Februari, bertepatan dengan peringatan empat tahun invasi Rusia.
Namun langkah tersebut belum berhasil menghentikan dukungan China.
Ketika India baru-baru ini mulai mengurangi pembelian minyak Rusia, China justru meningkatkan impornya. Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan impor minyak Rusia oleh China mencapai rekor tertinggi pada Februari setelah meningkat selama tiga bulan terakhir.
Benjamin Schmitt, peneliti senior di University of Pennsylvania, mengatakan sanksi dan kontrol ekspor Barat belum cukup kuat untuk menahan dukungan Beijing.