
loading…
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA menyoroti kerusuhan pada Agustus 2025. Foto/istimewa
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA menyebut, salah satu aspek yang banyak diperbincangkan adalah bagaimana sebuah peristiwa yang melibatkan warga biasa dapat memperoleh perhatian nasional dalam waktu singkat melalui media sosial. Penyebaran informasi yang cepat melalui berbagai platform digital memperlihatkan perubahan mendasar dalam cara masyarakat menerima, mengolah, dan merespons informasi.
“Fenomena tersebut mendorong perlunya meninjau kembali teori-teori sosial yang selama ini digunakan untuk menjelaskan gerakan protes dan kerusuhan sosial,” ujar Denny JA, Selasa (16/6/2026).
Teori pertama yang relevan adalah Relative Deprivation yang dikembangkan Ted Robert Gurr. Dalam teori ini, ketidakpuasan sosial muncul ketika terdapat kesenjangan antara harapan masyarakat dan realitas yang mereka hadapi. Perasaan ketidakadilan menjadi faktor penting yang dapat mendorong lahirnya protes maupun konflik sosial.
Baca juga: 21 Terdakwa Kericuhan Demo Agustus 2025 Divonis 7 Bulan tapi Tak Perlu Jalani Pidana
Teori kedua adalah Resource Mobilization Theory yang dikembangkan John McCarthy dan Mayer Zald. Teori ini menekankan pentingnya organisasi, kepemimpinan, jaringan, dan sumber daya dalam keberhasilan suatu gerakan sosial.