
loading…
Selama hampir dua jam penuh, emosi penonton diaduk-aduk tanpa henti. Menariknya, durasi yang cukup panjang tersebut sama sekali tidak terasa menjemukan. Waktu seolah melesat begitu saja karena setiap detiknya menyuguhkan kejutan yang memanjakan indra.
Perpaduan Harmonius Tradisi dan Teknologi Modern
Sejak tirai panggung dibuka, penonton langsung disuguhi perpaduan musik modern dan tradisional yang digarap dengan sangat apik. Ketukan instrumen kontemporer yang berpadu dengan keagungan musik tradisi melahirkan atmosfer pertunjukan yang membuncah dan penuh energi.
Tidak hanya memanjakan telinga, Sangkala Nyimas Gandasari juga memberikan pengalaman visual sinematik yang luar biasa megah. Panggung teater disulap menjadi ruang dinamis berkat balutan teknologi modern. Penggunaan sistem multimedia yang presisi, panggung hidrolik yang bergerak mulus, efek kabut yang dramatis, hingga tata cahaya artistik digital berhasil membius pandangan mata dan menciptakan ilusi ruang yang hidup.
Misi Personal dan Beban Moral di Balik Layar
Menghidupkan kembali sosok pahlawan perempuan dari abad ke-15 agar relevan di mata generasi Z dan Milenial adalah ambisi yang mempertemukan teknologi modern dengan memori masa lalu. Namun bagi Reny A. Daniel, Executive Producer Sangkala Nyi Mas Gandasari, kemegahan panggung ala Broadway lokal ini mendatangkan tantangan yang mendalam. Di balik misi meneruskan legacy budaya dan keluarga, ada beban moral yang besar untuk memastikan bahwa setiap gerak, vokal, dan alur cerita tetap setia pada akar sejarah aslinya tanpa cacat distorsi.
“Persiapannya memakan waktu satu tahun,” kenang Reny saat berbincang mengenai proses kreatif di balik layar. “Challenge-nya lebih ke riset, takut salah karena ini diangkat dari sejarah. Untuk riset, kami harus menggali dari manuskrip kuno dan berdiskusi intens dengan para budayawan.”
Bagi Reny, pementasan yang diprakarsai oleh Yayasan Prima Ardian Tana ini bukan sekadar proyek seni biasa, melainkan sebuah misi personal. Ada ikatan emosional yang kuat antara dirinya dengan tanah Cirebon.
“Salah satu alasan kuat mengangkat cerita dari Cirebon ini adalah karena ayah saya berasal dari sana dan beliau sangat mencintai Cirebon. Saya ingin meneruskan legacy-nya, sehingga muncullah kisah Nyai Gandasari,” ungkapnya dengan nada emosional.