
loading…
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (29/5/2026). FOTO/dok.SindoNews
“Prospek kesepakatan damai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung, namun premi risiko geopolitik masih tertanam di pasar minyak,” ujar pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Lagi-lagi Tembus Rekor Terlemah, Hari Ini Sentuh Rp17.857 per USD
Ia menjelaskan pasar merespons kabar bahwa Washington dan Teheran sedang menyusun draf perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Meski memberi harapan stabilitas pasokan energi, aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal.
Di sisi lain, harga minyak global tetap berfluktuasi seiring ketidakpastian geopolitik, yang turut memengaruhi persepsi risiko investor. Kondisi ini berdampak pada negara importir energi seperti Indonesia yang menghadapi peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembelian energi.
Dari faktor makroekonomi global, inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset berisiko rendah di AS.