
loading…
Konflik di keluarga bisa mempengaruhi otak anak. Foto: parenting firstcry
Dalam unggahannya, Adam menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik, kekerasan, atau pengabaian ternyata dapat mengalami pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah berada di medan perang.
“Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang,” tulis Adam.
Baca Juga : Waduh! Lebih dari 700 Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Cemas dan Depresi
Hal itu ditemukan melalui penelitian yang memeriksa aktivitas otak anak menggunakan metode fMRI atau functional Magnetic Resonance Imaging. Menurut dr. Adam, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di dua area penting otak yakni anterior insula dan amigdala.
Di mana keduanya berperan dalam mendeteksi ancaman serta merespons stres. Kondisi tersebut membuat anak berada dalam mode “siap siaga” secara terus-menerus karena terbiasa hidup di lingkungan penuh tekanan.
“Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi ‘siap siaga’ terus-menerus, mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur,” jelasnya.