Ekspor Minyak Saudi ke China Jeblok, Diramal Hanya 333.000 Barel per Hari



loading…

Foto udara memperlihatkan sebuah kapal tanker minyak mentah di terminal minyak lepas pantai Pulau Waidiao, Zhoushan, Provinsi Zhejiang, China, pada 4 Januari 2023. FOTO/China Daily via REUTERS

JAKARTA – Pengiriman minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan turun tajam pada Juni 2026 menjadi sekitar 10 juta barel atau setara 333.000 barel per hari. Penurunan tersebut dipicu tingginya harga minyak serta masih tertutupnya jalur pelayaran Selat Hormuz yang mengganggu distribusi energi global antara eksportir dan importir minyak terbesar dunia. Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin Nasser mengatakan normalisasi jalur distribusi minyak global tidak akan berlangsung cepat meskipun beberapa rute alternatif mulai digunakan.

“Pembukaan kembali jalur distribusi tidak sama dengan memulihkan pasar yang telah kehilangan sekitar satu miliar barel minyak,” kata Amin Nasser seperti dikutip Reuters, Senin (11/5/2026).

Baca Juga: AS Untung Besar dari Krisis Selat Hormuz, Ekspor LPG Tembus Rekor 3,3 Juta Barel per Hari

Volume ekspor Juni tersebut turun drastis dibandingkan Mei yang mencapai sekitar 20 juta barel dan saat itu sudah menjadi level terendah pengiriman minyak Saudi ke China. Sebelum konflik Iran memicu gejolak pasar energi global, Saudi Aramco rutin mengirimkan 45 juta hingga 57 juta barel minyak per bulan ke kilang-kilang di China.

Sejumlah kilang besar China seperti Sinopec dan Sinochem disebut memangkas permintaan pasokan minyak untuk Juni karena harga masih dinilai terlalu tinggi. Meski Arab Saudi telah menurunkan harga jual resmi minyak Arab Light untuk pasar Asia sebesar USD4 per barel menjadi premi USD15,50 di atas acuan Oman/Dubai, angka itu masih di bawah ekspektasi pasar yang berharap pemotongan lebih besar.

Data perdagangan menunjukkan impor minyak mentah China pada April turun 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi level terendah sejak Juli 2022. Perusahaan minyak milik negara di China juga dilaporkan memangkas tingkat operasional kilang sekitar 5% dibandingkan bulan sebelumnya sebagai respons terhadap lemahnya permintaan dan tingginya harga energi.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *