
loading…
Minimnya jaringan diler Mahindra di Indonesia menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan program kendaraan operasional desa. Foto: IG @Feedgramindo
Belum lama ini, sebuah pikap Mahindra Scorpio 4×4 mendadak bisu. Lokasinya di Jalan Lingkar Salatiga. Mobil itu bukan milik pribadi. Itu unit baru untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Tujuannya mulia: menyokong ekonomi desa. Tapi kalau belum apa-apa sudah mogok, rakyat tentu bertanya-tanya.
Insiden ini langsung viral. Netizen di akun feedgramindo melontarkan pertanyaan paling menohok: “Servisnya di mana kalau ada kendala mesin?” Pertanyaan itu sangat logis. Sangat mendasar.
Di atas kertas, spesifikasi Mahindra Scorpio ini sebenarnya gagah. Mesinnya mHawk. Tenaganyyi 140 HP. Torsinya 320 Nm. Transmisinya manual 6-percepatan. Ada teknologi Micro Hybrid pula. Katanya bisa irit bahan bakar 5 persen lewat sistem stop-start. Konsumsinya diklaim 11,2 kilometer per liter.
Untuk medan berat, ia punya penggerak 2WD dan 4WD elektronik. Ada mechanical locking differential. Ada mode 4Low untuk tanjakan curam. Hebat sekali. Tapi data di brosur seringkali berbeda dengan kenyataan di aspal Salatiga.