
loading…
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan nasional secara kumulatif untuk periode Januari hingga Maret 2026 mencatatkan surplus. FOTO/dok.SindoNews
“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD5,08 miliar,” ungkap Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Baca Juga: Inflasi April 0,13%, Dipicu Kenaikan Tarif Pesawat dan Bensin
Total nilai ekspor kumulatif pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai USD66,85 miliar, tumbuh 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor industri pengolahan menjadi tulang punggung dengan kenaikan nilai sebesar 3,96 persen menjadi USD54,98 miliar.
Tiga negara mitra utama yang menjadi tujuan ekspor nonmigas Indonesia meliputi China yakni pasar utama dengan nilai USD16,50 miliar (25,94 persen), didominasi oleh komoditas besi, baja, dan nikel, Amerika Serikat mencapai USD7,29 miliar (11,46 persen), terutama didorong oleh ekspor mesin elektrik, alas kaki, dan pakaian dan India memberikan kontribusi sebesar USD4,50 miliar (7,08 persen).