
loading…
Seorang pria sedang mengisi bahan bakar motornya di sebuah pom bensin di Dhaka, Bangladesh, pada 9 Maret 2026. FOTO/Aljazeera
Profesor ekonomi Yeah Kim Leng menyebut negara berkembang menghadapi tekanan berlapis akibat krisis energi global. “Mereka menghadapi campuran kuat inflasi, tekanan mata uang, dan ketegangan fiskal,” ujarnya dikutip dari Aljazeera, Minggu (29/3/2026).
Baca Juga: Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih 50%
Sejumlah negara seperti Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka mengalami tekanan berat akibat ketergantungan tinggi pada impor energi dari kawasan Teluk Persia. Kondisi ini diperparah oleh gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.
Di Pakistan, pemerintah menerapkan berbagai langkah penghematan energi, mulai dari penutupan sekolah hingga pemberlakuan kerja empat hari dalam sepekan. Perdana Menteri Shehbaz Sharif bahkan sempat menahan kenaikan harga BBM menjelang Idulfitri meski tekanan fiskal meningkat.
Sementara itu, Bangladesh menghadapi risiko kehabisan cadangan bahan bakar dalam hitungan hari, dengan sejumlah stasiun pengisian bahan bakar dilaporkan mulai kehabisan stok. Di Sri Lanka, pemerintah menetapkan hari libur tambahan dan membatasi distribusi bahan bakar melalui sistem kuota.
Di kawasan Timur Tengah dan Afrika, negara seperti Mesir juga menaikkan harga BBM hingga 15–22 persen untuk menekan beban subsidi. Pemerintah setempat turut membatasi jam operasional pusat perbelanjaan dan mengurangi penerangan publik guna menghemat energi.