
loading…
Clift Sangra. Foto: Soraya Intercine Films
Dalam baitnya, Clift menuliskan rasa kehilangan yang masih hidup. “Aku sangat merindukanmu sejak kau pergi,” tulisnya. Ia tidak berbicara tentang legenda atau ketenaran. Sebaliknya, Clift mengenang sosok perempuan yang dekat dan hangat. Kenangan itu membingkai Suzzanna sebagai pribadi, bukan sekadar ikon.
Clift kemudian mengingat keseharian kecil yang begitu berarti baginya. “Bagiku, kau perempuan yang tertawa pelan di rumah,” tulisnya. Ia menambahkan tentang genggaman tangan yang memberi ketenangan. Kenangan sederhana itu justru terasa abadi. Di tengah citra horor yang melekat, sisi manusiawi menjadi pusat cerita. Puisi itu seperti membuka pintu kenangan yang lama terkunci.
Baca Juga : Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor dalam Balutan Dendam dan Cinta
Selain itu, Clift menyisipkan ketakutan yang jarang diungkapkan banyak orang. “Aku takut lupa suara tawamu yang sederhana,” tuturnya. Pernyataan itu mengandung kegelisahan yang sangat personal. Ia bukan takut kehilangan lagi, melainkan takut melupakan. Karena itu, puisi menjadi cara menjaga ingatan tetap hidup. Setiap kata terasa sebagai upaya melawan waktu.