
loading…
Tata Motors yang akan mengirimkan 70.000 truknya ke Indonesia, demi program KDKMP. Foto: Tata Motors
Alih-alih menghidupkan mesin ekonomi domestik yang tengah lesu, manuver impor berskala raksasa ini diproyeksikan justru berpotensi menggerus Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga mencapai Rp39 triliun.
Angka ini merupakan nilai tambah ekonomi fatal yang akan terbang ke luar negeri, tepat di saat industri otomotif lokal menjerit karena tingginya kapasitas produksi yang tidak terpakai (idle capacity).
Berdasarkan data resmi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang menaungi 61 perusahaan otomotif, Indonesia memiliki total kapasitas produksi terpasang mencapai 2,5 juta unit kendaraan bermotor roda empat atau lebih setiap tahunnya.
Bahkan, jika dibedah lebih spesifik ke segmen kendaraan komersial kelas menengah ke bawah atau pikap, Indonesia memiliki tulang punggung manufaktur yang sangat kokoh.
Segmen ini selama ini digawangi langsung oleh tujuh raksasa otomotif yang beroperasi di Tanah Air, yakni PT Suzuki Indomobil Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), PT Sokonindo Automobile (DFSK), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan PT Astra Daihatsu Motor.
Secara akumulatif, ketujuh anggota GAIKINDO tersebut memiliki kapasitas produksi khusus untuk jenis kendaraan pikap yang mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun.
Realitas pahitnya, angka sebesar itu hingga kini belum dapat dipergunakan secara optimal akibat permintaan domestik yang stagnan.