Heboh Fenomena War Emas di JCC, Pengamat Sebut Bukan Fomo



loading…

Pengamat pasar uang dan komoditas menilai fenomena war emas yang sempat terjadi di JCC bukan sekadar kepanikan sesaat atau FOMO (Fear of Missing Out). Foto/Dok

JAKARTA – Antrean panjang dan keriuhan yang terjadi pada gelaran Jewellery Fair 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan pada Sabtu (14/2) kemarin, menjadi sorotan publik. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai fenomena tersebut bukan sekadar kepanikan sesaat atau FOMO (Fear of Missing Out) , melainkan langkah rasional masyarakat dalam merespons situasi ekonomi global.

Menurut Ibrahim, momen penurunan harga logam mulia dimanfaatkan warga untuk melakukan akumulasi aset sebagai instrumen investasi jangka panjang. Baca Juga: Daftar 6 Negara Penghasil Emas Paling Murni di Dunia, Indonesia Termasuk?

“Antrean ini bukan fomo, antrean ini adalah antrean yang sudah terbiasa terjadi, di mana pada saat harga logam mulia mengalami penurunan dan ini saat yang tepat untuk melakukan pembelian,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).

Ibrahim menjelaskan bahwa masyarakat saat ini sangat melek terhadap informasi global. Ketegangan di Timur Tengah, menyusul pengerahan kapal induk kedua Amerika Serikat yang bersiap menghadapi Iran, menjadi alarm bagi investor untuk mencari aset aman (safe haven).

Selain itu pelemahan nilai tukar rupiah turut mendongkrak ekspektasi kenaikan harga emas di masa depan. Faktor politik di Amerika Serikat, mulai dari pemilu sela hingga spekulasi kebijakan Bank Sentral (The Fed) di bawah kendali Kevin Warsh, menambah ketidakpastian yang justru menguntungkan harga emas.

“Masyarakat tahu bahwa harga logam mulia secara jangka pendek, menengah, dan panjang akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Wajar kalau seandainya masyarakat saat ini kembali mencari aset yang aman sebagai lindung nilai,” ungkap Ibrahim.

Salah satu pemicu kericuhan di JCC adalah keinginan masyarakat untuk memiliki emas secara fisik secara langsung. Ibrahim menyoroti bahwa meski sistem bullion bank dan emas digital sudah tersedia, kepercayaan masyarakat tetap lebih tinggi pada kepemilikan fisik yang seringkali sulit ditemukan di gerai konvensional maupun pegadaian.

“Keinginan masyarakat di Jakarta Convention Center itu bisa membeli dan mendapatkan logamnya secara fisik. Selama ini masyarakat melakukan pembelian baik di gerai Antam maupun pegadaian itu tidak ada barangnya. Walaupun sudah ada bullion bank, emas digital, tapi masyarakat lebih condong memilih yang ada fisiknya,” jelasnya.



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *