Petrodolar Tergerus, 20% Transaksi Minyak Global Beralih ke Mata Uang Lokal

Hegemoni petrodolar dalam perdagangan energi global mulai mendapatkan tekanan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lokal.

JAKARTA – Hegemoni petrodolar dalam perdagangan energi global mulai mendapatkan tekanan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lokal dan alternatif oleh negara-negara BRICS dan sebagian kawasan Eropa. Meski belum runtuh, pergeseran ini mulai menyoroti berkurangnya dominasi de facto dolar AS untuk penyelesaian transaksi minyak.Data dari firma penasihat investasi Sowell Management, yang dikutip dari Watcher Guru, menunjukkan 80% perdagangan minyak masih diselesaikan menggunakan petrodolar, sementara 20% lainnya dibayar dengan mata uang lokal, terutama oleh blok BRICS dan beberapa negara Eropa. Angka 20% ini dinilai cukup besar karena berpotensi meningkat ke kisaran 25% hingga 30% dalam beberapa waktu ke depan.

China, sebagai anggota kunci BRICS, secara agresif mempromosikan petro-yuan sebagai alternatif. Sejumlah pembelian minyak, batu bara, dan tembaga telah diselesaikan menggunakan yuan. Sementara itu, India telah membayar sebagian transaksi minyaknya dengan yuan, serta menggunakan rubel dan rupee.

Dorongan serupa datang dari Rusia dan negara BRICS lainnya yang semakin gencar menggunakan mata uang non-dolar dalam perdagangan bilateral, khususnya untuk komoditas energi. Uni Emirat Arab juga tercatat masuk dalam skema pembayaran alternatif ini.

 

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *