
loading…
Ilustrasi. FOTO/iStock Photo
Selama ini, perusahaan air minum kemasan tersebut dikenal luas melalui citra produk berbasis sumber air pegunungan. Munculnya informasi mengenai hubungan finansial dengan PDAM membuat sebagian masyarakat mempertanyakan kesesuaian antara narasi pemasaran dan realitas operasional yang berlangsung. Keraguan ini berkembang terutama karena belum adanya penjelasan rinci dari pihak terkait mengenai dasar kerja sama tersebut.
Baca Juga: Anggota DPR Pertanyakan Pembatasan Truk AMDK di Jabar Awal 2026
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam keterangannya menyebutkan bahwa kesepakatan antara perusahaan dan PDAM telah berlangsung sejak 1994. Pada masa itu, keduanya disebut memanfaatkan sumber air pada wilayah yang sama. Seiring berjalannya waktu, perusahaan diketahui mengembangkan pengambilan air dari titik lain, sehingga publik mempertanyakan relevansi kerja sama yang tetap berjalan hingga kini.
Pengamat menilai situasi ini menunjukkan pentingnya kejelasan dalam komunikasi publik. Dosen Ilmu Komunikasi, Algooth Putranto, menilai bahwa ketidaktepatan dalam menyampaikan informasi kepada publik dapat menimbulkan persepsi yang membingungkan. Menurut dia, konsistensi pesan merupakan unsur esensial dalam menjaga kepercayaan konsumen terhadap sebuah merek.