Saat Roti & Kue Ditinggalkan, Camilan Cerdas Mulai Dilirik



loading…

YAVA membidik tren camilan sehat serta cerita dibalik pembuatan sebuah makanan yang relevan bagi konsumen di 2025. Foto: YAVA Foto:

JAKARTA – Sarapan tradisional yang tinggi karbohidrat seperti roti dan kue kini mulai ditinggalkan, digantikan oleh sebuah fenomena baru yang didorong oleh ritme hidup yang serba cepat: era “camilan cerdas”.

Ini bukan lagi sekadar soal makanan pengganjal perut. Tapi, pergeseran budaya fundamental, di mana konsumen kini menuntut sebuah solusi “3-in-1” dari makanan mereka: harus praktis, harus enak, dan yang terpenting, harus menyehatkan.

Dilema klasik antara memanjakan lidah dan menjaga tubuh kini tak lagi relevan; konsumen modern menginginkan keduanya.

Di Balik Ledakan Pasar Camilan Sehat

Tren ini lahir dari sebuah kebutuhan yang sangat nyata. Di tengah tuntutan pekerjaan dan mobilitas yang tinggi, waktu untuk sarapan sehat yang disiapkan dengan baik menjadi sebuah kemewahan. Data industri menunjukkan adanya lonjakan permintaan untuk produk-produk seperti granola bar dan camilan berbasis biji-bijian yang menawarkan solusi praktis.

Salah satu pemain yang secara jeli menangkap denyut nadi pasar ini adalah YAVA, sebuah merek yang lahir dari Bali.
“Kami percaya bahwa makanan bisa menjadi jembatan antara keberlanjutan, kemanusiaan, dan kenikmatan. Hidup sehat tidak lagi soal memilih, melainkan merayakan keseimbangan antara enak dan bergizi,” ujar Christopher Lawrence Bailey, CEO YAVA, di Jakarta, Rabu (20/8).



You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *