
loading…
Pakar menilai persoalan terbesar logistik di Tanah Air adalah tidak adanya sistem terintegrasi dan satu payung regulasi yang mengatur baik dari sisi pelayanan, tarif, hingga standardisasi kualitas. Foto/Dok
Menurutnya persoalan terbesar logistik di Tanah Air adalah tidak adanya sistem terintegrasi dan satu payung regulasi yang mengatur baik dari sisi pelayanan, tarif, hingga standardisasi kualitas. “Saat ini semua pemain bergerak sendiri-sendiri. Akibatnya terjadi repotition, perang harga, bahkan ada yang rela menurunkan margin hingga tersisa Rp150 ribu saja, yang pada akhirnya habis juga tergerus biaya operasional,” ujar Pahlevi.
Ia menjelaskan, bahwa dunia logistik memiliki dua kategori besar: kurir (seperti JNE, Pos Indonesia, SAP) dan layanan door-to-door untuk pengiriman antar gudang atau proyek. Namun keduanya kini terjebak konflik harga, baik di level hub maupun antar penyedia jasa.
“Kalau tidak ada regulasi, yang murah pasti menang. Kualitas jadi nomor sekian, yang penting barang sampai,” tegasnya.
Baca Juga: Bisnis Logistik Tak Lagi Sama Setelah Pandemi Berlalu